Fenomena Pergeseran Mahar dalam Tradisi Adat Sabu

Studi Fenomenologi di Kota Kupang

Penulis

  • Merrie CH Nawa Universitas Nusa Cendana
  • Aloysius Liliweri Universitas Nusa Cendana
  • Hotlief Nope Universitas Nusa Cendana

DOI:

https://doi.org/10.54259/mukasi.v4i4.5442

Kata Kunci:

Kenoto, Fenomenologi, Culture Shift

Abstrak

This study applies Edmund Husserl’s phenomenological approach to explore the transformation of dowry practices in the Sabu tradition. The dowry, once represented by kenoto a container of areca nut and betel leaf with sacred symbolic value has shifted to modern forms such as cash, fruits, or packaged food. The focus is to understand the subjective responses of the Sabu diaspora in Kupang City toward these cultural changes. Data were gathered through in-depth interviews and observations, then analyzed using phenomenological reduction to uncover the essence of lived experience. Findings reveal a dilemma between preserving the symbolic meaning of kenoto and adapting to the demands of modern life. Economic conditions, education, religion, and media exposure emerge as significant factors influencing this shift. Some community members reject the change, arguing that it diminishes sacred values and weakens communal ties. Others perceive it as a necessary adjustment to contemporary realities, ensuring that the tradition remains relevant without losing its social function. The study concludes that the transformation of dowry is not only a material change but also a negotiation of values between tradition and modernity. This reflects the ongoing reconstruction of cultural identity among the Sabu people, especially in the diaspora context. The research contributes to existing literature by emphasizing subjective experiences rather than purely legal, religious, or sociological perspectives. By highlighting how the community interprets these transformations, the study enriches scholarly discussions of cultural shifts and underscores the dynamics of consciousness and identity in local communities navigating modernization.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Anjani, S. Y., & Maunah, B. (2022). Perubahan sosial serta upaya menjaga kesinambungan masyarakat. Jurnal Pendidikan IPS, 12(2), 49–56.

Arianto, B., & Handayani, B. (2024). Pengantar Studi Fenomenologi. Balikpapan: Borneo Novelty Publishing.

Arifianti, Ika, and Kurniatul Wakhidah, 2020. Semantik: makna referensial dan makna nonreferensial. Semarang: CV. Pilar Nusantara.

Butar-Butar, Charles, 2021. “Semantik”. .Medan: CV. UMSU Press

Darmiyanto, D., & Arsyad, A. (2021). Konsep belis dalam tradisi perkawinan masyarakat di Manggarai Timur: Perspektif perbandingan mazhab Hanafi dan al-Syafi’i. Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab dan Hukum, 1(1).

Dewa, Leonardus Ganggas Kurnia, I. Wayan Wiryawan, and A. O. Suciati, 2021. "Dampak Belis Dalam Perkawinan Adat Masyarakat Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur." Jurnal Mahasiswa Pendidikan 3.1

Djawa, C. (2023). Peran belis sebagai alat kontrol dalam perkawinan adat: Studi kasus di Kabupaten Sikka. JMBI UNSRAT: Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis dan Inovasi Universitas Sam Ratulangi, 10(1), 151–161.

Haba, Yuda D. Hawu, 2021. "Perjumpaan Injil dan Budaya di Kepulauan Sabu-Raijua pada Abad XIX & XX." Matheteuo: Religious Studies 1.1: 39-52.

Hapsah, R. H., Az Zahrah, F., & Yasin, M. (2024). Dinamika interaksi manusia, masyarakat, dan budaya dalam era globalisasi dan modernisasi. Jurnal Ilmu Pendidikan & Sosial (SINOVA), 2(2), 191–202.

Harahap, M., & Firman, F. (2021). Penggunaan social media dan perubahan sosial budaya masyarakat. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(1), 135–143.

Kana, N. (2019). Dunia orang Sawu. Jakarta: Sinar Harapan.

Kompas, 19 Februari, 2020, RUU Cipta Karya Terkait Pers Dipertanyakan, hlm.10

Liliweri, Alo. 2021. Memahami Makna Kebudayaan dan Peradaban: Seri Pengantar Studi Kebudayaan. Nusamedia.

Mahdayeni, Alhaddad, M. R., & Saleh, A. S. (2019). Manusia dan kebudayaan (Manusia dan sejarah kebudayaan, manusia dalam keanekaragaman budaya dan peradaban, manusia dan sumber penghidupan). Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(2), 154–165.

Maki, L. P. (2022). Kedudukan dan hikmah mahar dalam perkawinan. Syakhshiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 2(2), 137–149.

Pegiat Literasi. (2024, Maret 19). Budaya kenoto sebagai proses perkawinan adat suku Sabu di Sabu Raijua NTT. Kompasiana

Rahayu, Ely Laily Bunga, and Nur Syam, 2021. "Digitalisasi Aktivitas Jual Beli di Masyarakat: Perspektif Teori Perubahan Sosial." Ganaya: Jurnal ilmu sosial dan Humaniora 4.2 : 672-685.

Safitri, Y. D., Karomi, I., & Faridl, A. (2024). Dampak globalisasi terhadap moralitas remaja di tengah revolusi digital. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 1(4), 72–80

Staehler Tanja, 2017. “Heger,Hussrel And The Phenomenology Of Historical Words”. Publish by: Rowman & Littlefield International Llt Unit A

Tangirerung, J. R., & Kristanto, K. (2021). Pemaknaan Ibadah Live Streaming Berdasarkan Fenomenologi Edmund Husserl. DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, 6(2), 442-460.

Zahavi,2017. ”Husserl’s Legacy: Phenomenology, Metaphysics, and Transcendental Philosophy”. Penerbit: Oxford University Press

Diterbitkan

2025-11-10

Cara Mengutip

Merrie CH Nawa, Aloysius Liliweri, & Hotlief Nope. (2025). Fenomena Pergeseran Mahar dalam Tradisi Adat Sabu : Studi Fenomenologi di Kota Kupang. MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(4), 1681–1691. https://doi.org/10.54259/mukasi.v4i4.5442

Terbitan

Bagian

Articles